Kepedihan Yang Menjadi Teladan

14 November 2017, by HPK

Kepedihan adalah hal yang kebanyakan orang sesali, jauhi, hingga lupakan. Namun tidak begitu dalam keluargaku. Keluargaku terdiri dari ayah, mamah, adikku, dan aku. Aku bernama Jeremia seorang anak yang duduk dibangku kuliah sekarang. Dari SD hingga SMP aku adalah pribadi yang malas dan suka sekali bermain. Tetapi setelah banyak kejadian terjadi, kepribadianku mulai berubah sejak aku ada di bangku SMA.

Keluarga, khususnya orang tua merupakan cerminan dari Tuhan, begitu kata kebanyakan orang. Namun, bagiku keluarga adalah sebuah hadiah terindah yang dianugrahi Tuhan untukku. Keluargaku bukanlah keluarga yang kaya dalam segi materi tapi tidak juga kekurangan,tapi yang terpenting keluargaku kaya akan pengalaman dan tau artinya bahagia meskipun sederhana.

Saat aku tumbuh di usiaku yang ke-14 di dalam ruangan kecil yang berantakan dan ada dua buah sofa, aku sedang duduk dengan ayahku yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaanya dan terlihat cukup lelah. Ketika itu terlintas dibenakku bahwa ternyata menjadi orang dewasa itu melelahkan dan akupun bertanya kepada ayah “Yah apakah menjadi seorang ayah itu melelahkan ?”, aku sangat terkejut mendengar jawaban ayahku yang menjawab dengan lantang “Iya jer melelahkan”. Kemudian aku bergegas langsung bertanya “lalu, apakah ayah menyesal menjadi seorang ayah?”, begitu ujarku dengan segala kepolosanku saat itu. Mendadak suasana ruangan menjadi hening, hujan pun mulai turun menambah suasana tegang yang ada di ruangan kecil tempat kita berdua berbincang. Dengan tersenyum ayahku menjawab “ayah ga pernah nyesel jer, karena kamu harus tau, melihat setiap anak-anak ayah bisa tersenyum bahagia itu adalah kebahagiaan yang tak terukur untuk ayah”. Bersamaan dengan jawaban itu aku menitikan air mata dan sadar betapa dalamnya kasih sayang ayah kepadaku.

Setelah mendengar jawaban itu, aku bergegas  beranjak ke kamarku, ruangan persegi yang gelap tanpa lampu dengan satu ranjang dan sebuah televisi didalamnya. Disitu aku menyalakan televisi lalu menangis, merenungkan setiap jawaban yang keluar dari mulut ayahku. Setelah tangisan itu aku kembali ke ruangan kecil tempat ayahku menghilangkan lelah. Lalu aku duduk disamping ayahku dan kemudian ayah menceritakan pengalaman hidupnya mulai dari kecil saat ayahku tidak memiliki apa-apa dan tinggal dibalik bilik kumuh yang sangat tidak layak. Ia menceritakan setiap perjuangan kehidupannya dari mulai ia pernah menjaga pemakaman di malam hari, mencari paku di selokan, bahkan sudah bekerja menjadi tukang panggul, semua itu demi mencukupi kebutuhan adik-adiknya serta orang tuanya. Mendengar cerita itu aku termenung menatap indah ayahku sambil tersenyum dan berkata di hati bahwa “ternyata aku memiliki ayah terbaik yang ada di dunia ini”. Setelah hari itu pandanganku akan dunia ini mulai berubah serta tekad kuatku sudah kutetapkan untuk masa depan.

Malaikat lainnya ialah wanita dengan parasnya yang cantik, lembut tapi tegas, dan perhatiannya yang selalu aku rindukan, ya aku sebut malaikat itu dengan panggilan ‘Mama’. Dari sejak aku kecil mama adalah sosok yang selalu membimbingku dan mengajari aku baik itu membaca ataupun berhitung, tak pernah ku dengar sekalipun lelah itu terucap dari mulutnya maupun raut atau gekstur tubuhnya.

Di suatu malam gelap tanpa bintang ditemani semilir angin dan rintikan hujan yang menderu, di saat usiaku 13 tahun aku membuat sosok malaikat cantik itu menangis karena aku mengecewakannya dengan tingkah konyolku yang membangkang dan tak tahu diri, sering sekali aku dimarahi olehnya. Namun, malam itu merupakan malam terburuk dalam hidupku tak pernah kulihat sosok malaikat yang selalu melindungiku menjadi sosok pemurung yang terus menangis senada dengan hujan deras di langit hitam ini. Disaat itu dibalik pintu kayu coklat ditemani rintikan hujan dan keheningan yang disertai tangisan kecewa malam itu aku merasa menjadi sosok remaja paling tak berguna dan tak layak untuk hidup. Setiap aku merenung yang aku dapati adalah rasa bersalah dan akupun menyesal tak terasa tangisan yang aku keluarkan membuat aku tertidur di balik pintu coklat ditemani dinginnya malam.

Pada senja esok hari ditemani mentari dan embun yang menitik hangat dari dedaunan. Saat itulah aku terbangun dan sadar bahwa aku sudah ada di ranjangku yang gelap tanpa lampu, dengan bingung aku melihat sekelilingku sambil berharap bahwa semalam adalah mimpi buruk yang tak mungkin pernah terjadi dalam kehidupanku, ternyata terlihat jelas sosok mama sedang tertidur disebelahku terlihat pucat dan lelah. Sadarlah aku ternyata semalam bukanlah mimpi buruk, tetapi kenyataan yang tak bisa aku pungkiri.

Saat mama mulai membuka mata disitu aku takut dan aku benar-benar tak bisa lagi melihat tatapan penuh kekecewaan itu. Tetapi mengejutkan diruangan gelap itu mama memberikan senyuman kepadaku dan berkata “tidak apa-apa jer semuanya sudah berlalu, mama harap kedepannya kamu ga usah kaya gitu lagi, berubah ya udah gede kamu teh”, begitu manis ucapnya. Disitu senyum lebarku tak tertahan lagi disertai haru tiada tara dan sejak saat itupun aku mengerti bahwa mama adalah sosok malaikat yang bisa selalu membuat aku menjadi lebih baik lagi.

Setelah banyak hal yang aku, adikku, mama, dan ayah lalui kami semakin mengerti arti sebuah keluarga dan perjuangan. Sejak saat itu pun di ruangan gelap dengan ukuran yang tidak terlalu besar kami berempat mulai rajin bersekutu kepada Tuhan Yesus ditemani lembaran kertas berisikan Firman Tuhan, dan darisitu kami semua tahu bahwa keluarga adalah wujud dari kasih agape Yesus Kristus dan mulai darisitu kami memutuskan untuk selalu melangkah mendekat hingga mendekat menjadi keluarga yang selalu harmonis sebagai cerminan dari Tuhan Yesus Kristus.

Kita sebagai anak adalah kebanggan bagi orang tua kita serta titipan dari Tuhan. Oleh karena itu, bahagiakanlah kedua orangtuamu karena bagi mereka kamu adalah kebanggaan untuknya. Selalu doakanlah kerukunan dalam keluargamu dan berjuanglah untuk kehidupanmu dengan selalu belajar dengan giat tanpa lelah tanpa menyerah, itu adalah bagianmu dalam keluarga .

 

 

Jeremia Yusak Lestari