Cerpen Jujur Vs Dusta karya Ratu Pranatalia

25 Maret 2018, by HPK

“Claire!” Panggil seorang wanita berumur sekitaran 40an.

   “Iya, bu?” Claire menghampiri ibunya.

   “Ibu bisa minta tolong?” Tanya ibu Claire.

   “Bisa, bu. Memangnya ibu minta tolong apa?”

   “Ibu minta tolong padamu untuk memberikan makanan ini pada nenekmu yang berada di desa sebelah. Ia sedang sakit.” Ibu Claire mengambil rantang makanan dan tas selempangan yang berisikan bekal untuk Claire di atas meja. Lalu menyerahkannya pada Claire.

   “Baik ibu. Akan kuantar secepatnya pada nenek,” Claire menerima rantang makanan yang diserahkan ibunya, “Aku pergi dulu, bu.” Pamitnya kemudian.

   “Iya. Hati-hati, Claire.” Balas ibunya saat Claire menutup pintu.

Claire sudah siap menempuh perjalanan jauh menuju ke rumah neneknya yang berada di desa sebelah.

Untuk menuju rumah neneknya, Claire harus melewati hutan dan sebuah tanjakan yang lumayan tinggi. Memang berat untuk menuju desa tempat neneknya tinggal.

Kini Claire berada di dalam hutan yang dikelilingi oleh banyak pepohonan dan tumbuhan liar. Ia sebenarnya merasa ketakutan berada didalam hutan itu. Namun demi neneknya, Claire memberanikan diri untuk melintasi hutan sepanjang 5 KM.

Ditengah perjalanannya, Claire melihat seekor bayi beruang yang meringis kesakitan karena terkena perangkap. Ia menghampiri bayi beruang itu dan bermaksud untuk menolong bayi beruang tersebut.

“Astaga!” Claire kaget saat melihat kaki bayi beruang tersebut penuh dengan darah. Dengan sigap, Claire melepas perangkap itu dari kaki bayi beruang.

Kemudian Claire merobek lengan baju sebelah kanannya untuk menutupi darah kaki bayi beruang tersebut yang sedari tadi bercucuran.

“Sekarang kau akan baik-baik saja.” Katanya menghela nafas panjang.

Bayi beruang itu berhenti menangis. Akan tetapi selanjutnya ia terbatuk-batuk. Mungkin ia merasa haus dan lapar karena sedari tadi menangis, Pikir Claire dalam hatinya.

Claire merogoh isi tas selempangannya. Ia menemukan kotak makanan yang tidak terlalu besar dan botol minum yang terisi air penuh.

Lalu Claire memberikan ikan – isi bekalnya – pada bayi beruang. Bayi beruang itu memakan ikan yang disodorkan Claire dengan lahap. Claire juga memberikan minuman pada bayi beruang tersebut.

Beberapa menit setelah memperhatikan beruang itu, Claire melanjutkan perjalanannya.

Baru saja setengah jam melanjutkan perjalanannya. Claire merasa lapar dan haus. Ia merogoh tas selempangannya dan menemukan kotak bekalnya dan botol air minumnya telah kosong.

Ah, iya! Aku lupa. Kan tadi aku sudah memberikannya pada bayi beruang malang itu. Ingat Claire kembali.

Dengan keadaan lelah, ia memutuskan untuk beristirahat.

Claire melihat rantang makanan untuk neneknya. Ia ingin memakannya, tapi ia tak boleh. Karena makanan itu untuk neneknya yang sedang sakit.

Hampir saja aku berniat memakannya, Kata Claire dalam hati, kemudian menghembuskan nafasnya berat.

Ia melanjutkan kembali perjalanannya yang banyak godaan untuk memakan makanan neneknya.

Akhirnya ia berhasil melintasi hutan dengan selamat. Tinggal satu rintangan lagi. Tanjakan yang lumayan tinggi untuk memasuki kawasan tempat neneknya tinggal.

Dengan nafas yang tersengal-sengal, Claire berhasil menaiki tanjakan yang tinggi tersebut.

Ia sampai didepan rumah neneknya yang terlihat seperti gubuk.

Tok tok tok...

“Nenek?” Panggil Claire sambil mengetuk pintu.

“Ya. Siapa disana?” Tanya nenek dari dalam rumah.

“Ini aku Claire. Cucumu, nek.” Jawab Claire.

“Silahkan masuk, Claire. Buka saja.”

Claire membuka pintu rumah.

“Nenek! Cepat sembuh, ya... Ini makanan untukmu.” Claire memberikan rantang makanan untuk neneknya.

“Eh? Nenek tidak sedang sakit kok. Tapi terima kasih kau sudah jauh-jauh datang kesini.” Kata-kata neneknya sungguh membuat Claire bingung.

“Ini bekal untukmu untuk diperjalanan pulang. Sekali lagi terima kasih, Claire...” Nenek memberikan sebuah kotak besar yang berisi makanan untuk Claire.

“Terima kasih, nek.” Claire menerima kotak besar yang disodorkan neneknya.

“Iya. Hati-hati.”

Claire menempuh perjalanan panjang kembali. Kini ia tidak merasa haus dan lapar karena kini ia sudah punya perbekalan.

“Ibu aku pulang.” Claire membuka pintu rumah.

“Oh, kau sudah balik. Kesini dulu, nak.” Sambut ibu Claire. Claire mendekat ke arah ibunya.

“Ibu mau tanya. Apa kau sudah menyerahkan makanan yang kau bawa pada nenekmu?” Tanya ibu Claire lembut.

“Sudah, bu.” Jawab Claire.

Tak beberapa lama kemudian, adik Claire datang.

“Aku pulang, bu..” Adik Claire, Irene, membuka pintu rumah.

“Kau juga sudah pulang, ya. Kesini dulu, nak!” Suruh ibunya.

“Ada apa, bu?”

“Ibu mau tanya. Apa kau sudah menyerahkan makanan untuk kakekmu?” Tanya ibu dengan lembut juga.

Ternyata bukan cuman Claire saja yang disuruh untuk mengantarkan makanan kepada neneknya. Tapi adiknya juga. Tapi bedanya, adiknya disuruh untuk mengantarkan makanan pada kakeknya yang tinggal di desa depan. Untuk sampai kesana, Irene harus melewati jalan berbatu.

“Su-sudah, bu.” Jawab Irene gagap.

“Baiklah. Sekarang kalian boleh mandi. Kemudian segeralah tidur.”

“Baik, bu.” Jawab Claire dan Irene bersamaan.

Claire dan Irene pergi ke kamar masing-masing untuk mandi. Sementara itu...

“Halo bu?” Sapa ibu Claire pada ibunya, nenek Claire dan Irene.

“Ah, halo. Terima kasih atas makanannya, nak. Kau sangat pandai membuat makanan. Anakmu juga sangat baik. Jalan jauh-jauh kesini untuk mengantarkan makanan padaku. Lain kali, kalian sekeluarga main ya.” Suara disebrang terlihat gembira.

“Baik, bu. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa juga.” Nenek mengakhiri pembicaraan.

Ibu Claire ingin membuktikan perkataan anaknya. Ternyata Claire mengatakan yang sebenarnya. Sekarang tinggal membuktikan perkataan Irene.

“Halo, yah?” Sapa ibu Claire pada ayahnya, kakek Claire dan Irene.

“Halo, nak? Apa kabarnya?” Tanya ayahnya disebrang sana.

“Baik. Ayah sendiri?” Tanya ibu Claire balik.

“Baik. Main-mainlah kesini, nak.”

“Memangnya tadi Irene tidak ke rumah ayah?” Tanya ibu Claire kebingungan.

“Tidak. Memangnya tadi ia kesini?”

“Katanya iya ayah. Bahkan aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu dan menyuruh Irene untuk mengantarkannya padamu.” Jelas ibu Claire.

“Ouh begitu. Eh sudah, ya. Ada tamu yang datang.” Ayah ibu Claire mematikan telepon.

Jadi Claire mengatakannya dengan jujur dan Irene mengatakan kebohongan. Simpul ibu Claire dalam hatinya.

Keesokan harinya, ibu Claire memanggil Claire dan Irene ke ruang keluarga.

“Irene, ibu mau tanya. Kenapa kemarin kamu berbohong?” Tanya ibu Claire tegas.

“Jadi ibu sudah tau, ya. Sebenarnya kemarin saat mengantarkan makanan untuk kakek. Aku merasa lapar dan perbekalanku juga sudah habis. Jadi aku memakan makanan untuk kakek. Maaf, bu..” Irene meminta maaf pada ibu.

“Ibu memaafkanmu, nak.”

“Pantas saja kemarin sebelum tidur, kau bertanya padaku, apakah aku memakan makanan untuk nenek!” Ucap Claire.

“Iya. Saat aku tahu bahwa kakak malah memberikan perbekalannya untuk bayi beruang dan pergi ke rumah nenek tanpa memakan perbekalan apapun. Aku jadi merasa bersalah. Selama tidur aku tidak tenang. Aku merasa dihantui rasa bersalah karena berani berbohong pada ibu.” Jelas Irene.

“Ini adalah pelajaran untukmu Irene. Lain kali jangan berbohong lagi, ya.” Suara ibu melembut.

“Iya, bu. Terima kasih sudah mau memaafkan Irene.”

Setelah itu, Claire dan Irene tak pernah berbohong kepada ibunya lagi. Tak hanya ibunya. Mereka berdua juga tak pernah berbohong pada siapapun. Seperti teman-teman mereka, tetangga, guru dan orang-orang disekitarnya.

 

Tamat

 

Pelajaran;

Berbohong: Hanya membuat kita menjadi berdosa dan membuat hidup kita menjadi tidak tenang.

Jujur: Membuat orang lain menjadi merasa tenang dan kita juga merasa tenang.