Cerpen "JUJUR Lebih Baik" karya Noviantika

28 Maret 2018, by HPK

sang sinar utama di dunia yaitu matahari mulai menampakkan cahayanya. Jam kini menunjukkan pukul 06.00 dan aku masih dalam dekapan selimut yang hangat. Entah mengapa rasanya hari ini aku malas sekali untuk bergegas kesekolah. Tapi perasaan malas itu segera ku hilangkan dan dengan cepat aku melesat ke kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Hari ini adalah hari rabu, dan tentunya bukan hari libur, maka aku harus kesekolah. Setengah jam aku selesai bersiap-siap, kemudian mengambil satu buah roti dan langsung berpamitan pada papa dan mama. Aku pun langsung bergegas pergi ke sekolah.

Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Rani, aku berumur 13 tahun dan aku duduk di kelas 2 SMP. Aku bersekolah di SMP Nusantara yang menurut banyak orang sekolah itu sangat bagus. Aku terbilang lumayan pintar dikelas, karena aku mendapati ranking pertama dikelas sejak kelas 1 SMP. Hobby ku membaca novel dan olahraga terutama basket. Walaupun aku wanita, tetapi aku sangat menyukai olahraga basket. Aku memiliki banyak teman, dan mereka semua sangat berbeda sifatnya. Dan kini mereka menghampiriku yang sedang kelelahan akibat berlari sangat kencang karna pak satpam hendak menutup pagar sekolah. Kini aku duduk sambil mengatur nafasku.

“kenapa ran? Abis lomba lari? Hahahaa...” ucap dita temanku yang suka mengejekku tetapi selalu ada untukku.

 “ iya ran, kaya abis maraton aja kecapean gitu” lanjut risa disusul teman-temanku yang lain.

Aku tidak menghiraukan itu dan langsung mengajak teman-temanku ke kelas untuk mempersiapkan diri karna hari ini ada ulangan. Lalu mereka menyetujuinya dan kamipun pergi ke kelas.

Bel pun berbunyi, Bu Tasya segera memasuki kelas dan ulangan pun dimulai. Aku mengerjakan dengan tenang karena aku sudah belajar tadi malam. Waktu pun habis dan aku langsung mengumpulkan ulanganku.

Sebentar lagi raport tengah semester akan dibagikan. Aku dan teman-teman sering membicarakan soal hal itu. Kami suka sekali menebak siapa yang akan menjadi peringkat pertama. Ada yang menyebut aku, risa, gita, dan lain-lain. Siapapun yang menjadi peringkat pertama, kami tetap senang.

Beberapa hari kemudian, waktu pembagian raport pun tiba. Dan seperti biasa, wali kelas kami selalu membacakan siapa yang menjadi peringkat pertama sampai dengan peringkat sepuluh. Wali kelas kamipun menyebutkan nama-nama yang termasuk peringkat satu hingga sepuluh. Dan membuat kami sedikit kaget. Ya kaget. Yang peringkat pertama ialah Ria. Aku tidak kecewa karna aku tidak peringkat pertama. Karena siapapun yang peringkat pertama aku tetap senang. Tetapi kali ini tidak dengan teman-temanku, mereka terus membicarakan tentang Ria yang menjadi peringkat pertama. Mereka terus berbicara Ria suka menyontek pada saat ulangan dan mereka melihat secara langsung. Aku tidak terlalu memperdulikannya dan aku langsung pamit untuk pulang duluan.

Hari hari pun berlalu, aku tetap pergi kesekolah seperti biasanya. Kini ada yang aneh. Saat ini kami sedang mengikuti ulangan biologi dan ada yang aneh dengan ria. Aku sedang memperhatikannya. Ria sedang melihat sesuatu di bawah kertas ulangannya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh teman-temanku, Ria suka menyontek pada saat ulangan. Aku tidak menyangka kalau Ria melakukan hal ini. Karena selama ini Ria adalah anak yang sangat bijaksana, apalagi kalau sedang berbicara, ia pintar dan terlihat sangat menentang kecurangan. Tetapi saat ini aku melihat itu, Ria memang benar-benar menyontek. Padahal selama ini Ria selalu bilang bahwa ia tidak menyukai orang yang menyontek. Lalu bel pun berdering dan ulangan pun selesai. aku tidak berniat untuk mengatakan hal ini pada teman-temanku, aku tidak ingin semuanya bertambah panas. Semoga Ria sadar akan perbuatannya.

Tak lama kemudian, wali kelasku pun memasuki kelas dan berbicara tentang menyontek. Ia memperingati kami semua untuk tidak menyontek. Aku langsung menatap wajah Ria yang langsung menunduk, dan berusaha menutupi kesalahannya tersebut. Ternyata walikelas ku sudah mengetahui bahwa Ria suka menyontek pada saat ulangan.

Memang menyontek itu adalah tindakan yang salah dan menurut sebagian temanku menyontek itu rasanya tidak adil. Karena kami sudah belajar mati-matian untuk ulangan, sedangkan orang yang menyontek enak saja menyontek dan mendapat nilai bagus. Memang tidak adil!

Aku membicarakan hal ini pada mama, dan mama setuju dengan pendapatku bahwa menyontek itu salah karena menjadikan kita malas dan bergantung pada contekan. Mama pun bilang bahwa “jujur itu lebih baik” dan hal itu membuatku jadi lebih semangat belajar dan berprestasi. Dan benar saja, beberapa bulan kemudian, kenaikan kelaspun tiba, aku kembali meraih peringkat pertama atas kerja kerasku belajar selama ini. Aku pun merasa senang atas hal ini. Aku juga merasa senang karna Ria kali ini tidak lagi menyontek dan bahkan Ria memutuskan untuk belajar bersama aku dan teman-temanku. Memang benar apa yang dikatakan mama kepadaku bahwa “ jujur itu lebih baik”.

Akupun semakin giat belajar dan berprestasi bersama teman-temanku. Kami terus mengejar cita-cita kami untuk masuk ke SMA favorit. Dan aku berharap, tidak ada lagi yang menyontek dan kami bisa lulus bersama dengan hasil yang baik.