TUAN DAN HAMBA

Jika kita melihat judulnya, mungkin yang terbersit dalam pikiran kita adalah Tuan itu seseorang yang lebih berkuasa atas hidup seorang Hamba. Dan seorang Hamba adalah orang yang tidak berarti, di posisi yang lebih lemah.
Efesus 6:5-7 (TB) Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,
jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,
dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
Pada saat itu, banyak sekali tuan dan hamba di Roma yang sama-sama menjadi orang yang percaya Kristus. Sehingga dibutuhkan tuntunan bagaimana cara menjalani hidup Kristen yang harmonis di antara mereka.
Namun pada saat ini, kondisi seperti inipun juga terjadi, kita bisa menjadi seorang hamba, seorang pekerja. Menaati peraturan yang berlaku di tempat kerja dengan takut dan gentar. Melakukan pekerjaan kita dengan tulus hati. Ada ataupun tidak ada pengawas atau atasan, kita tetap lakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Karena Tuhan adalah pengawas kita yang tidak kelihatan. Mungkin kita bisa ada di situasi dimana atasan kita bukan orang yang menyenangkan. Tapi apakah kita tetap mau melakukan pekerjaan kita karena ingin menyenangkan hati Tuhan? Kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak ideal, apakah mempengaruhi kita untuk tetap punya integritas? Jujur dalam pekerjaan kita? Menjadi orang yang bisa dipercaya?
Kolose 4:1 (TB) Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
Bagian sebagai Tuan pun juga diajarkan. Saat ini, jika kita dianugerahi kemampuan sebagai seorang atasan dalam pekerjaan, apa yang kita lakukan? Berlaku adil dan jujur. Adil dalam apa? Upah yang diberikan apakah sesuai dengan skills dan besaran tanggung jawab pekerjaan yang bawahan kita lakukan? Apakah kita menilai pekerjaan mereka dengan adil dan jujur? Tidak dipengaruhi oleh favoritlisme. Memperlakukan karyawan kita dengan bijaksana dan manusiawi, bukan hanya sebagai mesin pekerja yang memberikan manfaat untuk kita. Karena sebagai Tuan, kita juga memiliki tuan yaitu Bapa di Sorga. Tuhan tidak mengutamakan yang satu dan mengesampingkan yang lainnya.
Efesus 6:8 (TB) Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
Pada akhirnya baik Tuan maupun Hamba, setiap orang akan memperoleh upah dari Bapa kita yang ada di Sorga. Ini adalah hal yang kita kejar. Baik Tuan maupun Hamba setiap orang memiliki porsi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Mari kita sama - sama memaksimalkan kemampuan kita itu dan terus lakukan dengan tekun bagian kita masing - masing untuk menyenangkan hati Tuhan dan mendapatkan balasan dari Tuhan satu hari nanti.
Tuhan Yesus memberkati.