Trust Each Other

3 Mei 2020, by HPK

Apakah kita tipe orang yang yang sulit mempercayai orang lain? Atau sebaliknya, banyak orang bilang kita terlalu mudah untuk percaya pada orang lain?

Sebagai pengikut Kristus kita mempercayai-Nya sebagai Juru Selamat bagi kita, percaya pada rencana-Nya, dan kemahakuasaan-Nya, namun bagaimana dengan kecenderungan kita untuk menaruh kepercayaan pada orang lain?

Lagipula, sebenarnya apa yang membuat kita dapat percaya pada orang lain? Topik inilah yang akan jadi bahasan kita sekarang.

Pada dasarnya, terdapat dua hal yang membuat kita dapat mempercayai seseorang: (1) karakter orangnya yang membuatnya dapat dipercayai dan
(2) kompetensi yang dimilikinya.

Rasa nyaman saat didengarkan, dimengerti, dan percakapan yang “nyambung”, merupakan perasaan-perasaan yang memperkuat kesan
seseorang sebagai orang yang dapat dipercaya.

Sementara kompetensi biasanya berkisar seputar pengetahuan dan keahlian orang tersebut dalam bidang-bidang tertentu.
Misalnya, kita bisa mempercayai seorang montir untuk memperbaiki kendaran kita, karena montir tersebut kompeten dan orangnya dapat dipercaya. Satu komponen saja hilang, kita mungkin tidak dapat mempercayainya lagi.

Jika orangnya tidak kompeten, tetapi bisa dipercaya —minimal kita akan tetap percaya dengan orangnya, tetapi tidak akan meminta sarannya untuk hal yang dia tidak kompeten di bidang tersebut.

Prinsip yang sama juga berlaku pada guru, tokoh masyarakat, teman-teman kita, pasangan, bahkan orang yang baru kita kenal. Pernah tidak sih teman-teman baru bertemu seseorang untuk pertama kalinya, lalu bercakap-cakap selama beberapa saat dan merasa bisa mempercayai orang tersebut? Bisa jadi hal tersebut dikarenakan orang tersebut memenuhi kedua karakteristik tersebut.

Meskipun keduanya esensial, manakah yang lebih penting? Hal tersebut sangat bergantung pada tujuan kita, apakah personal atau profesional. Untuk kebutuhan personal, seperti membangun relasi pertemanan—tentunya kita menginginkan orang-orang yang dapat dipercayai. Sementara untuk kebutuhan profesional, kita membutuhkan kompetensinnya.

Tetapi apakah teman-teman tahu, bahwa karakter “dapat dipercaya” lebih penting daripada kompetensi? Hal ini dikarenakan dalam hubungan personal maupun profesional, kepercayaan adalah yang pertama dan utama.

Bahkan jika kita baru bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan orang tersebut menunjukkan kompetensinya terlebih dahulu sebelum kita dapat mempercayainya, hal tersebut dapat menyebabkan kita mengalami perasaan terintimidasi dan memiliki pemikiran negatif seperti “orang ini kok sok tahu”, padahal yang dikatakan orang tersebut mungkin benar adanya.

Maka dari itu teman-teman ingat pentingnya membentuk diri sebagai pribadi yang dapat dipercaya, dibandingkan mementingkan untuk memberikan bukti bahwa diri kita kompeten.

Tentunya, memiliki keduanya adalah skenario terbaik—seperti Tuhan kita Yesus Kristus yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita semua pengikut-Nya. Bukan hanya Ia dapat dipercayai, tetapi Ia juga telah membuktikan begitu besar cinta kasih Allah Bapa kepada kita ciptaan-Nya.

Akhir kata, jika kita ingin dikelilingi oleh orang-orang yang dapat dipercaya dan berkompeten, maka kita pula harus menjadi demikian bagi sesama, seperti tertulis pada Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."