Tinggalkan Segala Bebanmu Di Kayu Salib

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelematkannya oleh Dia" - Yohanes 3: 16-17
Pada hari Jumat Agung, kita mengingat pengorbanan yang Yesus lakukan untuk kita. Yesus disiksa, dipakaikan mahkota duri, dan diolok oleh banyak orang. Dia juga harus memikul salib kayu salib dan disalibkan di Bukit Golgota.
Yesus sangat mencintai kita sehingga Ia rela menghadapi rasa sakit, penghinaan dan kematian agar manusia dapat menjalani hidup tanpa penghukuman dan memiliki hidup yang kekal. Ini adalah cinta sejati yang paling dalam dan murni.
Terkadang, kita mungkin berpikir bahwa apa yang telah kita lakukan 'terlalu buruk' untuk diampuni. Jadi alih-alih mengakuinya kepada Yesus, kita memilih untuk membawa beban itu kemana-mana. Beban itu dapat berupa kepahitan, kecemburuan, depresi, kemarahan atau perasaan tidak berharga lainnya.
Tindakan ini serupa dengan membawa ransel yang penuh dengan batu-batu berat. Namun saat ini, Tuhan tidak ingin kita membawa ransel lagi. Dia ingin kita meninggalkannya di kayu salib di mana Yesus memberikan hidupnya untuk kita.
Tuhan tidak ingin kita memikul kesalahan dan dosa dengan sia-sia, sebab ia sudah membayar harga dengan mati di kayu salib. Jadi, kita harus meninggalkan beban itu di kayu salib dan berhenti mencoba mengambilnya lagi. Ingatlah pada firman Tuhan dalam Ibrani 8:12 yang berbunyi:
"Karena aku akan berbelas kasihan atas perbuatan salah mereka, dan aku tidak akan pernah lagi mengingat dosa mereka."
Jika merasa terbeban dengan masalah dan dosa, kita harus jujur ââkepada Tuhan dan meminta Dia untuk memberikan pertolongan. Percayalah bahwa Dia akan memulihkan dan menopang hidup kita. Dia akan mengangkat beban kita dan memikulnya untuk kita.