Tebarkan Kebaikan Selama Hidup

6 September 2020, by HPK

Umur manusia ada di tangan Tuhan. Kita tidak tahu kapan kita mati, entah lusa, besok atau mungkin hari ini. Selama kita masih hidup, jangan pernah menyia-nyiakan waktu, tebarkanlah kebaikan selagi masih ada kesempatan.

Empati sangat penting karena memenuhi dua kebutuhan kita yang terdalam, yaitu: pertama, kebutuhan mendasar untuk dipahami; kedua, kebutuhan yang mendalam akan perasaan kita divalidasi atau diterima. Dengan adanya empati,  kita dengan tulus dapat menolong orang-orang yang kita cintai.

“Bagaimana supaya dapat menjadi pribadi yang empati?” Berikut beberapa hal yang bisa membantu kita untuk menjadi pribadi yang berempati, yaitu:

1. Cerdas untuk mendengar.
Secara alamiah kita sudah terlatih untuk cepat bereaksi terhadap semua hal. Apalagi hidup kita pada masa kini menuntut semuanya serba cepat. Akibatnya kita tidak lagi bisa mendengar dengan baik dan cerdas akan rintihan dan keluhan dari orang-orang terdekat kita. Karena budaya kita mengajarkan kita untuk bergerak cepat, kita akhirnya mengabaikan relasional untuk mendengarkan ungkapan hati dan perasaan dari mereka yang ada di sekitar kita. Itu berarti kita mengabaikan nilai kasih yang paling berharga dan tinggi dalam kehidupan orang-orang yang sangat kita sayangi.

“Jadilah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah” – Yakobus 1:19. Jadi, untuk menjadi pribadi yang empati, maka kita harus belajar untuk mendengar dengan cerdas semua ungkapan hati dan perasaan dari orang-orang di sekitar kita dan orang-orang yang kita kasihi.

2. Mengajukan pertanyaan yang tepat dan benar.
Dalam interaksi kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita dan juga orang-orang yang kita sayangi, pada umumnya kita selalu mengajukan pertanyaan klasik, yaitu: “Apa kabarnya? Bagaimana keadaannya?”. Pertanyaan-pertanyaan demikian acap kali direspon dengan sebuah jawaban klasik yaitu luar biasa, baik-baik saja.

Nah untuk menjadi pribadi yang empati, sesungguhnya tidak cukup dengan mengajukan pertanyaan klasik seperti di atas karena jawabannya yang diberikan juga klasik.

“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” – Amsal 20:5. Jadi, untuk menjadi pribadi yang empati, kita harus mengajukan pertanyaan yang tepat dan benar guna mengetahui kondisi hati dari orang-orang yang ada di sekitar kita dan orang-orang yang kita sayangi.

3. Menjadi sahabat yang baik.
Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menulis: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” – Roma 12:15. Menjadi pribadi yang empati tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Saya turut mengerti kondisimu”. Lalu setelah mengatakan demikian, Anda pergi karena Anda pikir sudah cukup dengan pernyataan itu. Jika itu yang Anda lakukan, maka hal tersebut belum menunjukkan bahwa Anda pribadi yang empati.

Menjadi pribadi yang empati ialah kita aktif dan terlibat langsung di dalam kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita dan kehidupan orang-orang yang kita sayangi. Kita harus ada di samping mereka. Kita harus memberi waktu ekstra bagi mereka. Kita harus memberi perhatian dan kepedulian lebih bagi mereka. Ketika mereka bersukacita, kita ada bersama mereka untuk bersukacita dengan mereka. Ketika mereka bersedih, kita ada bersama mereka untuk memberi dukungan moril bagi mereka.