PROVIDENSIA ALLAH

7 Juli 2021, by HPK

Shalom, saya Ratu siswi dari HPK Foundation. Disini saya bermaksud memberikan kesaksian dan berbagi cerita mengenai keluarga saya yang mengalami pergumulan akibat terpapar covid 19.

Cerita dimulai ketika suatu malam Ibu saya tiba-tiba mengalami demam  dan batuk ringan. Seperti biasa kami tenang-tenang saja karena mengira hanya demam biasa. Kami pun tetap berinteraksi dengan ibu. Tetapi di hari ke empat ayah saya mulai curiga karena sudah 4 hari ibu saya tidak kunjung sembuh, sehingga akhirnya ayah membawa Ibu ke klinik untuk dilakukan swap antigen dan seperti yang sudah diduga hasil tesnya adalah *reaktif*.

Hari-hari berikutnya ayah saya mulai mengalami gejala seperti yang dialami Ibu. Selanjutnya kami kakak-beradik juga mulai mengalami gejala demam dan penciuman berkurang. Kemudian Ayah memutuskan agar kami sekeluarga (termasuk Ibu) melakukan swab PCR di Puskesmas. dan hasilnya kami sekeluarga tujuh orang dinyatakan positif terpapar Covid-19.

Gejala yang kami alami berbeda-beda satu dengan yang lain. Adik bungsu saya hanya demam singkat. Saya, kakak dan satu adik saya mengalami demam singkat dan kehilangan penciuman. Sedangkan ayah dan ibu saya demam cukup lama, batuk, nyeri otot dan selera makan menurun drastis. Kemudian paman saya tidak mengalami gejala apa-apa alias Orang Tanpa Gejala (OTG).

Semenjak terpapar, kami sekeluarga mengalami hari-hari yang cukup menegangkan  dikarenakan beberapa hal :

*1) Kami shock* Kami tidak menyangka kami bisa terpapar Covid-19, padahal kami cukup disiplin menggunakan masker di luar rumah. Sekarang keluarga kami juga menjadi perhatian masyarakat sekitar, rasanya tidak nyaman. Sebenarnya dari segi resiko penyakit ini sama saja dengan penyakit lainnya. Akan tetapi  karena penyakit ini mewabah dan menjadi pusat perhatian masyarakat dunia, maka penyakit ini menjadi momok yang menakutkan di masyarakat dan kami pun terbawa oleh ketakutan itu. Kami takut kehilangan orang-orang yang kami kasihi. Mengingat ada 3 orang anggota keluarga kami yang punya riwayat asma.

*2) Kami kehilangan gairah*
Orang tua kami yang selama ini menjadi motor penggerak kehidupan kami sekeluarga kurang berdaya karena sakit. Tidak ada yang menyemangati kami, tidak ada yg menegur kami ketika kami salah, tidak ada yang mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, tidak ada yang memasak, mencuci, menyiapkan makanan dan lain sebagainya. Rumah kami nyaris tanpa gairah sehingga terasa sangat membosankan.

Namun di tengah-tengah pergumulan, kami selalu ingat salah satu ayat alkitab yang sering kita dengar diucapkan orang Kristen, bahwa ALLAH tidak membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita.

Keyakinan ini semakin kuat seiring datangnya kebaikan-kebaikan, pertolongan2 dari orang-orang baik yang dipakai TUHAN. Orang-orang yang memancarkan kasih Kristus, baik tetangga, jemaat gereja, rekan sepelayanan, sahabat dan juga dari orang-orang yang sebelumnya tidak kami duga. Mereka mengirimkan makanan, buah2an, vitamin dan obat-obatan, bahkan ada juga yang mengirimkan paket alat kesehatan yang tentu sangat berguna. Tidak hanya mengirimkan bantuan materi, mereka juga menopang kami dalam doa serta menyemangati kami.

Tentu saja apa yang dilakukan orang-orang baik ini sangat menolong kami. Kami sadar, kami tidak dapat membalas kebaikan mereka, kami hanya berharap kebaikan mereka diperhitungkan TUHAN menjadi harta kekal bagi mereka. Perbuatan orang-orang baik ini makin menyadarkan kami bahwa kebaikan Allah sungguh nyata bagi orang-orang yang berharap dan berserah kepadaNya.

Kemudian apa yang terjadi ?

Puji Tuhan menjelang minggu kedua isolasi atau hari ke 10 kami semua mulai merasakan tanda-tanda pemulihan kesehatan walaupun belum maksimal. Demam mulai hilang, selera makan mulai membaik dan lain sebagainya. Kemudian berangsur-angsur kesehatan kami makin membaik sehingga pada hari ke 15 kami dinyatakan bebas Covid-19 oleh pihak Puskesmas dan isolasi mandiri selesai.

Saudaraku,
Selama 14 hari isolasi mandiri, kami sekeluarga banyak diam dan berkesempatan untuk merenung. Dalam kesempatan ini saya rindu untuk berbagi beberapa hikmad dari TUHAN, yang besar kemungkinan tidak dapat kami peroleh jika tidak mengalami pergumulan di atas.

*Pertama*
Mungkin selama ini kami merasa sudah sangat banyak berbuat baik terhadap sesama, sehingga cenderung kurang menghargai kebaikan-kebaikan orang lain yang kami terima. Melalui pergumulan yang kami alami, TUHAN mau mengajar kami untuk kembali belajar menghargai kebaikan-kebaikan orang lain sekecil apapun itu, sebab kebaikan-kebaikan mereka juga adalah Kebaikan TUHAN. TUHAN menitipkan kebaikanNya melalui orang-orang yang dapat dipercayaiNya. TUHAN mau kita saling menghargai satu dengan yang lainnya, sebab kita semua adalah ciptaanNya. Sebaliknya penghargaan kita atas perbuatan baik orang lain juga diperhitungkan sebagai perbuatan baik.

*Kedua*
Hidupku dalam tangan Tuhan. Barangkali pernyataan ini terkesan sangat klasik sebab sudah sering kita dengar. Tetapi jika kita renungkan lebih dalam maka pernyataan itu sungguh menyayat hati. Bagaimana tidak, TUHAN berkata melalui Daud dalam Mazmur 139:13 :

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

TUHANlah yang membentuk tubuh jasmani dan tubuh rohani kita dengan penuh ketelitian dan dengan penuh cinta kasih. Kita adalah handmadenya TUHAN, ia tidak akan membiarkan buah tanganNya sendiri,  jangan pernah meragukan itu. Persoalannya kitalah yang sering tidak menghargai Sang Pencipta Kita, sehingga kita sering tidak menghargai bahkan cenderung merusak tubuh kita dengan pola hidup dan pola makan yang salah. Kita sering memasukkan makanan jasmani/rohani dan mengembangkan kebiasan-kebiasan yang justru merusak tubuh jasman/rohani kita. Saudaraku, memang hidup kita sangat rentan dari bahaya dan sakit penyakit jasmani/rohani, tetapi hargailah tubuh jasmani/rohani kita, pelihara dan lindungilah itu semaksimal mungkin, ikutilah protokol-protokol hidup yang ditetapkan Tuhan melalui tangan-tanganNya (Roma 13:4). Tidak hanya tubuh kita, peliharalah tubuh sesama kita semua adalah buah tangan TUHAN.

Semoga kesaksian ini menjadi berkat bagi pembaca.