Prokrastinasi

11 April 2019, by HPK

Adakah di antara kalian yang suka menunda-nunda pekerjaan? Pernahkah pekerjaan rumah ditumpuk dulu sebelum dikerjakan, atau kamu lebih memilih main dulu sebelum belajar untuk ulangan? Atau beberapa kali kamu merasa “buntu” untuk mengerjakan suatu tugas sehingga kasur nampaknya lebih bersahabat untuk dirimu saat itu?

Mungkin kamu mengalami sesuatu yang dinamakan “prokrastinasi”, atau kebiasaan menunda. Istilah prokrastinasi mungkin terdengar asing di benakmu karena sebenarnya kata ini berasal dari Bahasa Latin, yaitu “pro” yang berarti “maju” atau “lebih menyukai” dan “crastinus” yang berarti “besok”. Kira-kira maksudnya adalah “lebih suka melakukan tugasnya besok”, atau dengan kata lain, “besok lagi sajalah mengerjakannya”.

Hal yang menarik dari fenomena prokrastinasi ini adalah pelakunya seringkali melakukan aktivitas yang lain yang tidak berhubungan, padahal tahu bahwa dengan menunda, maka pekerjaannya pasti tidak akan selesai atau akan ada dampak buruk yang mengikuti. Dalam kehidupan sebagai pelajar, umumnya bentuk prokrastinasi yang dilakukan adalah :

1. Menunda untuk memulai mengerjakan atau melaksanakan tugas-tugas. 

2. Terlambat dalam menyelesaikan tugas, karena melakukan hal-hal lain yang tidak dibutuhkan. 

3. Tidak sesuainya durasi pengerjaan tugas yang sebenarnya dengan yang awalnya direncanakan.

4. Memilih untuk mengerjakan aktivitas lain yang lebih mudah atau menyenangkan daripada pekerjaan yang sebenarnya (misal: mengobrol/ chattingan, bermain gadget, membuka media sosial, nonton, mendengarkan musik, tidur-tiduran, browsing internet yang tidak berhubungan dengan tugas, dan masih banyak lainnya).

Parahnya lagi, prokrastinasi ini bisa membentuk suatu siklus yang tidak berkesudahan. Pada mulanya bisa saja seseorang ingin memulai mengerjakan tugas-tugasnya lebih awal, namun merasa bahwa deadline-nya masih jauh, sehingga ia pun bersantai-santai dan berpikir bahwa pekerjaan tersebut dapat dikerjakan nanti lagi.

Biasanya tidak berhenti sampai sana, tetapi dilanjutkan dengan rasa bersalah karena telah menyia-nyiakan waktu dan kemudian berkutat dengan pekerjaan tersebut seakan-akan nampak tengah sibuk mengerjakan di mata orang lain—padahal tidak. Disusul dengan keyakinan semu bahwa “masih cukup banyak waktu untuk mengerjakan tugas tersebut atau mungkin semakin merasa bersalah, pasrah, dan malah melanjutkan aktivitas lain yang lebih menyenangkan—sampai pada akhirnya, deadline pun tiba.

Prokrastinasi ini sejalan dengan paparan firman Tuhan yang diambil dari Amsal 24: 33-34 yang berbunyi, "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” Kita dapat simpulkan bahwa konsekuensi yang didapatkan dari menunda-nunda jelaslah sangat buruk.

Apakah ada di antara kita yang pernah terjebak dalam siklus yang dipaparkan di atas? Jika ya, setidaknya kini kamu telah mengenali fenomena apakah itu dan kini saatnya untuk memberikan solusinya.

Prokrastinasi bukan sekedar kemalasan secara umum, melainkan suatu penolakan untuk memulai mengerjakan. Jadi intinya adalah, “mulailah”.  Awalnya mungkin kita terkesan memaksakan diri untuk memulai, tetapi jika diteruskan, maka diri kita pun akan dapat beradaptasi dengan tugas tersebut dan mengerjakannya sampai selesai atau minimal mencapai target kita. Alangkah baiknya jika kita dapat terhindar dari kebiasaan menunda-nunda.

Akhir kata, semoga sahabat HPK Foundation dapat seantiasa menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu. Amin.