Optimis Dalam Penyertaan Tuhan

Hidup ini penuh dengan dinamika. Ada kalanya yang kita kerjakan berhasil, kadang gagal. Tidak ada yang mampu mengetahui yang akan terjadi di kemudian hari, sehingga tiap kali mau melakukan sesuatu, seseorang akan diliputi keraguan, “Berhasil atau tidak ya?” Tentu memiliki keraguan seperti itu tidaklah salah, karena kita hanyalah manusia biasa. Keraguan ini dapat dikategorikan ke dalam dua sikap yang saling bertolak-belakang, yaitu optimis dan pesimis.
Optimis berpikir positif, sebaliknya pesimis berpikir negatif. Kedua sikap ini amat mempengaruhi rutinitas dan tantangan-tantangan dalam kehidupan. Jika ada masalah, orang yang optimis akan berpikir, “Walau agak ragu, tapi saya yakin pasti berhasil menyelesaikannya. Inilah kesempatan menggali potensi diri dan berprestasi.”
Sementara itu, orang yang pesimis akan berpikir, “Saya akan gagal sebab sepertinya saya tidak mampu. Saya pasti akan dipermalukan” Umumnya tidak ada orang yang seratus persen optimis atau pesimis. Dalam situasi tertentu, seseorang bisa optimis dan di situasi lain bisa pesimis. Namun jika seseorang cenderung selalu berpikir positif akan disebut optimis, dan jika cenderung berpikir negatif disebut pesimis. Dengan membandingkan keduanya, tentu sikap optimis yang seharusnya dimiliki umat Kristen.
Mengapa demikian?
Jika teman-teman renungkan, kita adalah manusia biasa yang sudah diangkat Tuhan menjadi anak-Nya. Dan sikap anak Tuhan adalah “apapun yang terjadi atau apapun hasilnya nanti itu adalah dari keputusan Tuhan. Dan apapun keputusan Tuhan pasti mendatangkan kebaikan bagiku”.
Demikianlah sikap yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita. Optimislah karena Tuhan. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7) Bersama Tuhan, kita tidak perlu takut menghadapi berbagai persoalan. Sebagai orang percaya, janganlah kita bersikap pesimis karena sikap pesimis menunjukkan bahwa kita tidak mempercayai penyertaan Tuhan. Ayub berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3:25)
Jadi kalau kita takut menghadapi persoalan, justru hal negatif itu yang akan terjadi. Bersikaplah optimis karena Tuhan Yesus lebih besar dari segala persoalan kita. Niscaya apa yang kita kerjakan, hasilnya akan baik dan sesuai dengan rencana-Nya.
Mari kita selalu optimis hidup dalam penyertaan Tuhan!