Menjadi Seorang Yang Rendah Hati Seperti Teladan Yesus Kristus

5 April 2019, by HPK

Rendah hati adalah sikap yang memiliki makna luar biasa. Orang yang bersikap rendah hati, mampu mengakui segala kekurangannya dan mengakui bahwa ia memerlukan orang lain untuk membantunya. Rendah hati adalah salah satu unsur sikap dewasa.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bagi sebagian orang bahwa kerendah-hatian sudah tidak relevan lagi pada jaman ini karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan, sehingga “rendah hati” mulai ditinggalkan oleh mereka. Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” (to become someone)  dan penolakan untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu.

Situasi bersaing inilah yang menurut Paul T. P. Wong, Ph.D., C. Psych. President, International Network on Personal Meaning Coquitlam, B.C., Canada, dalam sebuah esainya sebagai penyebab orang tidak menyukai dan sulit memahami makna sebenarnya dari kerendah-hatian. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama, dan bersamaan dengan itu, berlomba-lomba pula mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor satu. Keadaan ini berbeda sekali dengan arti dan makna rendah hati sebagaimana diulas di atas: rendah hati dimaknai sebagai kerelaan untuk menjadikan diri rendah, tidak dihormati dan “bukan siapa-siapa”

Pandangan Kristen tentang kerendah-hatian sudah sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri, mulai dari kerendahan dalam kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya hingga kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Seperti tertulis :“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12)