Kuasa Doa Tak Pernah Berubah

18 Oktober 2020, by HPK

Pada tgl 13 februari 2011 seorang nenek berusia 70 thn dari desa Ciranjang meluapkan syukurnya kepada Tuhan karena berhasil menjalankan operasi pengangkatan rahimnya oleh dr. Winarno. Sudah bertahun-tahun dia menderita penyakit prolaps uteri dan gangguan saluran kencing yang menyebabkan dia sering sakit perut dan tidak bisa mengontrol kencing, sehingga tak jarang dia mengompol. Hal ini sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari, tapi apa daya, sang nenek tidak punya biaya. Untuk hidup sehari-hari saja susah dan sangat sederhana.

Pertemuan saya dengan nenek ini sungguh tidak terduga dan tidak direncanakan sama sekali. Saya yakin, Tuhanlah yang merencanakan pertemuan kami. Nenek ini tinggal seorang diri di desa Ciranjang. Pada saat saya dan teman2 tim HPK Foundation melakukan perjalanan untuk mengadakan persekutuan di salah satu rumah penduduk di desa Ciranjang pd tgl 17 desember 2010,  nenek ini pertama kali bergabung dgn ibadah kita. Saya melihat bertapa menyedihkan fisik nenek itu. Beliau berjalan dengan terbungkuk-bungkuk. Saya coba menghampiri nenek itu dan nenek itu sambil menangis mulai bercerita kalau dia sudah lama menderita penyakit prolaps uteri dan hidup sebatang kara dengan mencari kayu bakar.

Saat itu saya berpikir untuk mencarikan dokter yang mau membantu menyembuhkan penyakit nenek itu. Teman saya merekomendasikan dokter spesialis kandungan, yaitu dr. Winarno, yang sering melakukan pelayanan. Saya bersama tim HPK mencoba mendatangi dr. Winarno. Puji Tuhan, dr. Winarno bersedia untuk membantu nenek itu.

Keesokan harinya, kami tim HPK membawa nenek itu berobat ke dr. Winarno dan dokter menyarankan bahwa rahim nenek itu harus dioperasi. Operasinya akan dilakukan di RS. Boromeus dan biaya yang dibutuhkan saat itu sebesar 13 jt . Saya berusaha untuk mencari dana, namun dana yang terkumpul hanya 9 jt dan masih kurang 4 jt. Saat itu saya sungguh bingung dan seluruh tim HPK sudah coba menghubungi bagian keuangan RS. Boromeus. Pihak RS. Boromeus dengan tegas menyampaikan bahwa mereka tdk pernah memberikan bantuan keringanan biaya apapun dari dulu. Jadi hanya dr. Winarno saja yg melakukan operasi gratis krn kebijakan beliau sendiri.

Saat itu, waktu untuk operasi nenek tinggal 2 hari lagi. Saya hanya bisa berserah pada Tuhan dalam doa dan iman. Saya yakin Tuhan pasti buka jalan.

Setelah nenek ini di operasi dan rawat inap di RS. Boromeus Bandung selama 3 hari, keesokan hari nya tim HPK memberanikan diri untuk mendatangi bagian keuangan lagi dan meminta keringanan biaya.

Tiba-tiba ada satu orang yang menghampiri tim HPK dan tim HPK menceritakan tentang nenek ini. Puji Tuhan, orang tersebut berkata bahwa sisa biaya yang masih kurang tidak perlu dibayar dan tim HPK diperbolehkan membawa pulang sang nenek.

Mendengar hal ini, saya sungguh tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan. Tuhan sangat baik dan benar-benar menjawab doa saya. Selama beberapa hari saya berdoa dan tepat pada waktunya Tuhan menjawab mengerakkan hati seseorang yang bahkan tidak kami kenal itu, yang ternyata merupakan pimpinan di bagian keuangan RS. Boromeus. Tuhan sungguh bisa memakai siapapun untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Saya percaya bahwa doa orang benar jika dengan yakin didoakan, sangat besar kuasaNya.

Kuasa doa tak berubah, dari dulu, sekarang, dan untuk selama-lamanya.