Kesaksian Ibu Retta
Dalam setiap rumah tangga, selalu ada masa-masa sulit yang tidak terlihat oleh orang lain. Demikian juga yang dialami oleh Ibu Retta, orang tua dari salah satu penerima beasiswa HPK Foundation. Perjalanan hidupnya penuh pergumulan, namun juga dipenuhi oleh jejak-jejak pengharapan.
Beberapa tahun lalu, ia dan suami harus menjalani kehidupan terpisah. Sang suami bekerja di Jakarta, sementara Ibu Retta bersama anak-anak tinggal di Bandung. Jarak yang memisahkan, tekanan kebutuhan hidup, dan komunikasi yang tidak selalu mulus membuat mereka sering berselisih paham. Pada satu titik, rumah tangga mereka seperti berada di ambang perpisahan.
Namun di tengah badai itu, mereka memilih satu keputusan terpenting: tetap menjadikan Tuhan sebagai kepala keluarga. Dalam doa yang mungkin terasa kering, dalam air mata yang tak terlihat orang lain, dan dalam proses panjang yang tidak instan, Tuhan tetap bekerja. Hari demi hari, Ia memberikan kekuatan untuk bertahan, mengampuni, dan berharap lagi.
Hingga pada waktu-Nya yang terbaik, setelah 4 tahun hidup terpisah, Tuhan membuka jalan. Suami dan istri yang dulu terpisah kota kini dipersatukan kembali di Bandung. Bukan karena kuat dan hebatnya mereka, tetapi semata-mata karena anugerah dan penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan.
Kesaksian ini mengingatkan kita: Tuhan tidak pernah lalai memelihara keluarga yang berharap kepada-Nya. Jawaban-Nya mungkin tidak selalu cepat, jalan-Nya tidak selalu mudah dimengerti, tetapi waktu-Nya selalu tepat. Di balik setiap air mata dan pergumulan, Ia sedang menata sesuatu yang indah bagi mereka yang tetap setia bersandar kepada-Nya.