Keberanian Dalam Ketakutan

7 Juni 2020, by HPK

Bagaimana caranya mengukur keberanian seseorang?

Bilamanakah seseorang dikatakan berani?

Umumnya orang-orang akan setuju bahwa keberanian merupakan suatu kualitas yang baik, tetapi tahukah teman-teman bahwa
kualitas keberanian seseorang baru akan muncul ketika menghadapi cobaan. Dengan kata lain, kita tidak bisa dikatakan berani jika kita tidak menghadapi sesuatu yang kita takuti. Menghadapi sesuatu atau situasi yang kita takuti, namun tetap bertahan dalam menghadapinya—itulah yang dinamakan dengan keberanian.

Mengapa kita perlu keberanian?

Dalam masa-masa sulit seperti sekarang, ketakutan membuat seseorang menjadi tawar hati, dan semakin tawar hati semakin kecil
pula kekuatan yang dimilikinya (Amsal 24:10). Ketakutan membuat orang percaya melakukan tindakan kompromi, tidak lagi punya keberanian untuk hidup 'berbeda' dengan dunia dan akhirnya terbawa arus yang ada.

Misalnya takut dijauhi atau dikucilkan menuntun seseorang untuk melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilainilai yang diajarkan Yesus Kristus. Maka dari itu kita membutuhkan keberanian, karena melatih nilai kebaikan membutuhkan usaha.

Dapat dikatakan bahwa setiap hari, kita menghadapi pilihan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jahat, dan ini penuh dengan bahaya nyata, meski tidak selalu bahaya fisik.

Dalam menghadapi bahaya seperti itu, pilihan pertama kita adalah menghadapinya atau menyerah saja.

Berani kah kita untuk mengambil keputusan yang tak hanya baik, tetapi juga benar?
Sudahkan kita yakin bahwa bibit keberanian ada di dalam diri kita?

Sudahkah kita selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil saat menghadapi hal yang "menakutkan"?

Jawaban terhadap pertanyaan itu akan dapat ditemukan ketika kita sedang menghadapi ketakutan. Pastikan Yesus selalu ada dalam hati dan pikiran kita sehingga kita dapat selalu berani, bahkan ketika harus menghadapi masalah sebesar apapun.