Jiwa Besar Yang Mampu Memaafkan

Belakangan marak kasus kebencian di tengah masyarakat. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan benci dan mengapa membenci dianggap sebagai sesuatu tidak berkenan. Kita tentunya tahu bahwa benci adalah suatu bentuk emosi dalam diri yang umumnya terwujud dalam suatu keinginan untuk melakukan kekerasan, baik itu dalam bentuk kata-kata, tindakan, maupun sekedar berada di dalam benak.
Tapi tunggu dulu, sebenarnya kita membahas kemarahan atau kebencian?
Meskipun sering muncul berdampingan dan nampak serupa, kebencian merupakan sesuatu yang berbeda dengan kemarahan. Kemarahan umumnya muncul sebagai reaksi dari suatu aksi—aksi ini kita anggap salah, atau ada tindakan yang kita anggap tidak sesuai. Kita mengetahui tindakan tidak pantas itu terjadi pada diri kita ataupun orang lain dan sifatnya merugikan, maka marahlah kita. Dengan kata lain, kemarahan kita ditujukan pada suatu tindakan atau perbuatan.
Sedangkan benci, merupakan suatu reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang, sebagai pribadi. Jadi dalam kebencian yang dituju bukan tindakannya, tetapi orangnya. Sehingga tak jarang bahwa ketika kita sudah membenci seseorang, apapun tindakannya—selalu terasa salah. Itu karena kita sudah anggap “dia”nya yang salah; dia menyapa itu salah, dia nafas juga salah, bahkan dia dilahirkan saja pun kita anggap salah. Nah itulah benci.
Sekarang bayangkan jika kita dibenci seseorang, apapun yang kita lakukan menjadi serba salah. Terlebih lagi, yang dianggap salah adalah kita sebagai pribadi. Sungguh tidak mengenakan jika kita dibenci orang, bukan? Begitu pula sebaliknya.
Tak hanya itu saja, teman-teman HPK Foundation percaya kan bahwa kita diciptakan oleh-Nya menurut gambaran dan rupa-Nya, sehingga pribadi manusia itu sendiri adalah baik adanya. Dengan kata lain, membenci sesama sama saja membenci Sang Pencipta. Maka dari itu marilah kita senantiasa dapat memaafkan sesama kita apapun yang diperbuatnya atau sebagaimana pun diri mereka mengusik diri kita. Ingat bahwa jiwa yang besar adalah jiwa yang mamp memaafkan sesamanya, sebagaimana tertulis pada Efesus 4: 31-32,
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu"