Ibadah Sejati

5 Juli 2020, by HPK

Rutinitas ibadah dan aktifitas religius memang penting untuk dilakukan, tetapi perilaku tersebut tidak menjamin hati yang suci dan iman yang tanpa keraguan. Hal inilah yang nampaknya harus selalu kita ingatkan pada diri kita dan orangorang terdekat kita.

Apa yang kita lakukan di “luar” hendaknya merupakan cerminan dari apa yang ada di “dalam”. Jelas bahwa menghafalkan alkitab, rajin ke gereja, dan menjalankan ibadah hanya berarti sedikit jika kita tidak mengutamakan cinta kasih dan memiliki belas kasihan—terutama jika kita gagal untuk peduli pada sesama.

Dalam doa pun, lebih baik berdoa dengan hati meskipun tanpa kata, dibandingkan penuh dengan kata-kata tetapi tanpa hati. Mereka yang hanya mementingkan apa yang terlihat dari luar ibarat orang-orang farisi dan ahli taurat pada zaman Yesus dahulu.

Mereka yang mengumbar perbuatan-perbuatan yang merepresentasikan ketaatan mereka dalam beribadah, namun apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu yang tawar akan makna.

Apa yang nampak bagi orangorang untuk melihat, menjadi baik ketika kita benar sungguh dalam menjalaninya.

Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah kamu jujur dan bersungguhsungguh dalam pengajaranmu (Titus 2:7).

Meskipun demikian, tidak melulu semuanya hari berasal dari dalam diri kita—tak semua orang terlahir dan hidup dengan ketakwaan. Baik pikiran, ucapan, dan perbuatan, ketiganya saling mempengaruhi dan mendefinisikan diri kita.

Maka dari itu, kita dapat mencermati sisi apa dalam diri kita yang masih perlu diperbaharui dan kita gunakan kesempatan tersebut untuk menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik lagi, yang sesuai dengan karakteristik KeTuhanan.

Bijaksanalah dalam mengedepankan keselarasan di antaranya.