Hidup Seperti Roda, Tapi Yesus Selalu Jadi Pusatnya

Nama saya Dessy Andreani. Usia saya tahun ini menginjak 24 tahun. Saya lahir dikeluarga yang berkecukupan. Papa saya bekerja di dunia tekstil menjual berbagai macam obat warna untuk batik. Hidup saya semasa kecil sangat di manja oleh Papa saya. Tetapi namanya bisnis, tidak selalu diatas dan pasti berputar. Papa saya jatuh bangkrut pada saat saya berumur 15 tahun. Semua harta kami habis dijual dan hutang papa menumpuk.
Papa saya adalah orang yang sangat baik dan suka memberi walau terkadang pada saat keluarga kami juga masih kekurangan. Hal itu lah yang menjadi prinsip saya karena melihat papa saya melakukannya setiap kali dan dia tetap bahagia melakukannya. Melakukan hal baik dan memberi untuk orang lain yang lebih membutuhkan.
Papa tidak mempunyai pekerjaan apapun dalam 3 tahun. Hidup kami seperti di putar balik. Papa selalu bekerja mencari celah sampai subuh. Terkadang saya melihat papa saya menangis. Tapi saya yakin, Tuhan akan membantu kami.
Saat saya di sekolah menengah atas, kehidupan kami masih di bawah rata-rata. Uang sekolah saya menunggak 7 bulan dan hampir tidak bisa mengikuti UAS. Saya hanya membawa uang 5000 rupiah dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore sepulang sekolah. Tetapi hal tersebut tidak menyurungkan motivasi saya untuk berhasil suatu saat nantu dan dukungan dari mama dan papa sangat besar dalam menguatkan entah dalam psikologis maupun rohani.
Setelah lulus sekolah menengah atas, saya terpaksa cuti kuliah 3 tahun dan membantu bisnis papa saya dengan memegang pembukuan bisnis papa karena papa tidak mau menyewa orang lagi karena pernah dikorupsi. Selama 3 tahun papa banting tulang agar bisa mengembalikan hidup kami ke semula. Sedikit demi sedikit sudah membaik dan ketika adik saya mau memasuki dunia perkuliahan saya pun disuruh papa untuk melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi. Pada saat itu, saya sangat senang karena akhirnya saya bisa menjadi sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Tetapi, saat saya berada di semester 2 pada bulan November 2017 papa saya di vonis kanker paru-paru. Saat itu dunia saya tiba tiba menjadi gelap.
Saya belum bisa kehilangan sosok papa yang selalu mendukung saya dan mendorong saya dengan senyumannya. Setelah beberapa bulan papa melawan penyakitnya, akhirnya papa kembali ke Tuhan pada tanggal 21 Februari 2018.
Semenjak papa meninggal, mama saya menjadi tulang punggung keluarga. Menjadi supir taxi di Blue Bird bekerja dari subuh- malam dan hanya tidur beberapa jam untuk menghidupi saya dan adik-adik saya.
Saya sekarang adalah mahasiswa di Institut Teknologi Harapan Bangsa dan part time barista di sebuah café. Kehidupan ekonomi kami saat ini sangatlah dibawah rata-rata. Terkadang kami menunggak membayar kost karena uang kami belum mencukupi. Mama saya tinggal di kost dengan saya. Ekonomi kami sedang berada di bawah. Saat ini kesulitan itulah yang membuat kami menjadi kuat dan bersatu agar bisa menguatkan satu sama lain dan berusaha bersama-sama agar mendapat kehidupan yang lebih baik dari ini.
Melihat mama saya banting tulang, membuat saya termotivasi untuk lulus kuliah dan menjadi sarjana agar saya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan membantu mama saya dalam menghidupi biaya hidup dan sekolah adik-adik saya. Tujuan utama saya adalah menjadi sukses dan pribadi yang tangguh untuk keluarga saya.