Engkaulah Persembuyianku Dan Perisaiku
ENGKAULAH PERSEMBUNYIANKU DAN PERISAIKU; AKU BERHARAP KEPADA FIRMAN-MU “. Artinya, kita sudah tau tempat pelarian kita yang aman dari berbagai rongrongan dunia ini, kita sudah harus mempersiapkan diri kalau-kalau ada hembusan badai kencang yang menghantam dan menerpa perahu layar kehidupan kita. Dialah Tuhan yang selalu kita andalkan, Dialah tempat persembunyian kita dan kubu pertahanan kita. Kepada Dialah kita percaya dan hanya kepada Dialah kita menaruh harapan, karena Dialah perisai yang sanggup melindungi seluruh keberadaan kita.
“Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” Mazmur 3 : 4
Ditengah dunia yang penuh dengan gejolak ini, Rasul Paulus mengingatkan akan dalam setiap keadaan kita harus menggunakan perisai iman sehingga kita bisa menangkal berbagai serangan musuh. Kita harus mencontoh Daud yang percaya bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya.
“… dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,” Efesus 6 : 16
“Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya.” Amsal 2 : 7. Seorang anak berdusta kepada gurunya, mengaku tidak membawa buku yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR), padahal PR itu memang tidak dikerjakannya. Si guru percaya. Merasa berhasil, dustanya berkembang. Ia berbohong juga pada orang tuanya. Bukan hanya tentang PR, melainkan juga hal-hal lain, seperti uang jajan, uang sekolah, dan kegiatan sekolah. Ketika orang tuanya dipanggil karena dusta si anak mulai terendus, barulah ia mengaku dengan jujur.
Seperti yang kita ketahui bahwa berdusta merupakan tindakan tercela. Orang yang berdusta untuk sementara waktu dapat saja merasa aman karena berhasil menutupi sesuatu. Namun, orang jujur akan terbiasa menghadapi realitas dan konflik, bertahan pada masa-masa sulit, dan menemukan jalan keluar untuk persoalan yang dihadapinya. Semakin sering kita berdusta, kita mungkin merasa nyaman bisa membuat orang percaya dengan dusta kita. Tapi ingat, dusta akan membuat kita menjadi tidak apa adanya.
Lalu suatu waktu, ketika dusta kita sudah menumpuk-numpuk, kita pun jadi kesulitan mengenali siapa diri kita sebenarnya. Dan, dalam taraf yang lebih mengerikan, kita bisa saja tidak tahu dengan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Ingatlah bahwa Tuhan akan membela orang-orang yg hidup jujur dan hidupnya tidak bercela di hadapan-Nya.
“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu dapat melawan tipu muslihat iblis ; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6 : 10-12).