Doa Dalam Sunyi
Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengubah tren yang berlaku di masyarakat kekinian. Contohnya saja platform media sosial yang umum digandrungi oleh khalayak ramai. Kenyataannya, kini segala aspek kehidupan manusia kini ditampilkan ke hadapan publik dan menjadi konsumsi banyak orang. Mulai dari pengalaman sehari-hari, emosi pribadi, konflik yang terjadi, kekayaan yang dimiliki, liburan keluarga, kisah percintaan, dan masih banyak lagi. Motivasi di baliknya mungkin saja beragam, tapi tak mengubah fakta bahwa konten-konten yang menggugah rasa penasaran tersebut beredar secara luas. Tak jarang kita pun ikut terbuai dan mengikuti konten-konten tersebut dan bahkan turut menyebarkannya.
Salah satu aspek kehidupan yang turut diungkap ke publik adalah perihal berdoa. Entah sudah berapa kali konten-konten bertemakan “doa” menjadi viral di dunia maya dengan bermodalkan “tekan suka jika kamu turut mendoakan” dan betapa kata “Amin” menjadi sesuatu yang digantikan dengan satu kali klik tombol suka atau mengetikkannya pada kolom komentar. Bukan ingin mengkritisi terlalu jauh, namun jika dipikirkan kembali—memangnya konten “doa” seperti ini akan sampai pada tujuan? Ironis memang, tetapi itulah kenyataannya.
Pada zaman dahulu, orang-orang Farisi pun berdoa depan publik. Seakan jika nampak di depan publik, mereka membenarkan diri mereka sebagai orang-orang yang religius dan taat beribadah. Ketika itu, Yesus berkata sebaliknya. “... Jika kau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu [rapat-rapat] dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Matius 6:6). Secara mendasar, Ia menyampaikan bahwa doa adalah komunikasi pribadi dengan Bapa di surga. Tidak ada yang perlu melihat, tidak ada yang perlu mendengar, kecuali Ia yang kita tuju.
Begitulah doa sepatutnya dimaknai. Berkomunikasilah dengan disertai hati yang tulus. Tak perlu cemas akan pandangan orang lain, tak perlu merangkai kata-kata sedemikian indahnya— karena bahkan tanpa kata pun dapat lebih bermakna. Lebih baik tanpa kata tapi dengan hati, daripada dengan kata tapi tanpa hati yang tulus.
Kiranya tulisan ini dapat menjadi perenungan bagi kita.