"Cinta, Komitmen, Pikiran, Ketergugahan"

Tiga komponen CINTA. Apa yang tidak ada dalam hubunganmu?
Bagi mereka yang pernah merasakan jatuh cinta pasti akan setuju bahwa perasaan cinta merupakan salah satu perasaan terindah yang dapat dialami semasa hidup. Puisi, musik, lukisan, dan lagu kerap kali digunakan sebagai media untuk menggambarkan suasana hati seseorang yang tengah jatuh cinta. Seakan-akan perasaan tersebut tidak dapat diekspresikan melalui kata semata. Beragam ekspresi perkataan menggambarkan perasaan cinta seseorang, mulai dari hati yang berbungabunga, dunia yang terasa begitu berwarna, sampai jiwa yang terasas melayang ke angkasa. Memang perasaaan memainkan peran yang penting dalam suasana hati seseorang yang jatuh cinta. Tetapi tahukan teman-teman bahwa cinta bukan melulu soal perasaan?
Menurut psikologi, cinta memiliki tiga komponen-komponen yang mana jika ada ada satu saja komponen yang tidak cukup kadarnya, maka perasaan cinta yang dialami itu tidak akan terasa lengkap.
Yang pertama, seperti yang teman-teman juga pasti ketahui, yaitu komponen perasaan. Perasaan dalam cinta disebut sebagai “intimasi” atau kedekatan. Perasaan intim ini adalah suatu perasaan yang membuat kita dapat “nyaman” berada dekat dengan seseorang yang kita cintai, terasa sedih dan kangen jika berpisah. Umumnya selain memberikan rasa nyaman, perasaan dalam cinta juga memberikan rasa aman. Aman untuk berbagi rahasia, aman untuk berterus terang terhadap perasaan sendiri, aman untuk mengekspresikan diri, dan rasanya bahagia jika dapat bersama.
Yang berikutnya adalah komponen pikiran, yang biasa disebut sebagai komitmen. Komitmen bicara mengenai pilihan dan tanggung jawab. Ketika kita mencintai seseorang dan memiliki komitmen kepadanya, maka kita akan menjaga perasaan orang tersebut, memilih untuk menghabiskan waktu bersamanya dibandingkan bersama dengan yang lain, menjawab kebutuhan ia yang kita cintai, dan berupaya untuk melakukan yang terbaik agar dapat tetap bersama dengannya.
Yang terakhir adalah komponen somatik atau tubuh. Komponen ini bicara mengenai ketergugahan kita terhadap orang yang kita cintai. Ketika jantung kita berdegup kencang ketika berdekatan dengannya, ketika kita seakan tertarik kepadanya, ketika bersentuhan dengannya dapat membuat hari kita terasa indah—hal-hal tersebutlah yang tercakup dalam komponen ini.
Cinta dikatakan utuh, ketika ketiga komponen ini ada dan nyata. Tetapi, apakah melulu ketiga komponen ini selalu ada? Jawabannya: bisa iya, bisa tidak.
Jika ketiga komponen-komponen tersebut tidak dimiliki suatu hubungan, tentu itu bukanlah cinta. Bayangkan cinta tanpa komitmen, hanya ada ingin dekat dan ingin merasa nyaman—tetapi tidak komitmen dan selalu hilang saat dibutuhkan. Bahkan bisa saja mencari kenyamanan dan mengejar ketertarikan itu dari orang lain. Bayangkan pula cinta tanpa ketergugahan. Ada komitmen, ada kedekatan, tetapi “api cinta” yang membuat jantung berdegup kencang itu sudah tidak ada lagi. Adapula cinta tanpa kedekatan, ketika sudah berkomitmen untuk menjalani hidup bersama— tetapi hubungannya tidak mesra dan rasa nyaman maupun aman tidak dapat dirasakan. Kehangatan di kala berdua saja yang mungkin dulu pernah dirasakan, tergantikan dengan atmosfer dingin dan cuek.
Tetapi teman-teman jangan salah. Komponen-komponen cinta ini tidak melulu ditujukan pada pasangan loh. Perasaan cinta juga dapat muncul di antara satu dengan yang lainnya melalui hubungan non-romantis.
Misalnya hubungan cinta antara orang tua dan anak. Baik komitmen, intimasi, maupun ketergugahan—semuanya pasti ada, dengan kadarnya masing-masing. Begitu pula dengan teman, ada teman yang memang membuat kita merasa nyaman dan rasanya ingin terus bersama-sama, tetapi bukan berarti kan kalian harus membangun hubugan yang romantis yang bahkan nantinya diteruskan ke jenjang pernikahan? Pada dasarnya, cinta dapat dirasakan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
Ada satu lagi teman-teman.
Bahkan ini paling penting dari semuanya, yaitu cinta kita kepada Tuhan.
Bukankah kita sering mendengar kisah kasih-Nya, bahkan merasakan sendiri cintaNya kepada kita? Kita pun demikian, memiliki kecintaan pada sosoknya. Ada komitmen ketika kita memuji dan memuliakanNya melalui doa. Komitmen tersebut terwujud ketika kita mendatangi rumah-Nya untuk beribadah, meminta berkat dan penguatan kepada-Nya dan bukan kepada yang lain. Ada keintiman di antara kita dengan-Nya, di kala kita dapat dengan bebas mengutarakan kecemasan-kecemasan kita tanpa perlu takut akan dinilai atau diadili. Kedekatan kita dengan-Nya menimbulkan perasaan nyaman, aman, dan rasa bahagia tumbuh setiap kali kita menjalin hubungan denganNya. Ada ketegugahan ketika kita seakan ingin berlari ke pelukan-Nya dan mendekapNya dengan erat. Merasakan kehangatan yang terpancar dari kasih karunia-Nya kepada kita anak-anak-Nya.
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4: 19). Perasaan cinta yang terasa begitu indah ini merupakan berkah dari Tuhan pada kita sebagai manusia. Maka dari itu, tentunya cinta yang kita miliki kepada-Nya jauh lebih besar dibandingkan cinta kita terhadap sesama manusia.
Demikianlah teman-teman. Dengan ini, teman-teman sekarang menjadi tahu dan dapat mengevaluasi hubungan cinta yang teman-teman alami dalam kehidupan sehari-hari. Semoga teman-teman dapat mengalami perasaan cinta yang seutuhutuhnya. *